Menaruh Harap Pada Buku Cerita Anak Indonesia

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

“Menulis cerita anak adalah bagian dari kerja ideologis dan pertarungan diskursus dalam membentuk manusia yang akan mewarnai masyarakat kita di masa depan.” – Okky Madasari

Setiap membaca berita atau mendengarkan obrolan orang tentang rendahnya minat baca di Indonesia bagi saya tampak sebagai sesuatu yang klise. Tapi disaat itu juga saya merasa sedikit jengkel, bagaimana mungkin pendidikan di negara ini bisa maju dan manusianya unggul kalau budaya membacanya saja rendah? Fakta dari hasil riset UNESCO cukup menyedihkan, indeks minat baca di Indonesia hanya 0,001%. Ini berarti dari 1000 penduduk hanya 1 orang yang serius membaca. Mari kita coba tilik, anda para pembaca budiman yang memiliki anak atau saudara berusia dibawah 12 tahun, sudahkah mengajarkan pada mereka untuk suka membaca buku? Lha jangankan mengajarkan pada anak untuk suka membaca, mungkin kita sendiri malah jarang membaca.

Belum lama ini Okky Madasari, penulis novel yang dikenal banyak mengangkat tema sosial baru saja menerbitkan buku cerita anak dengan judul Mata di Tanah Melus. Alasan peraih Khatulistiwa Literary Award 2012 ini dalam membuat buku cerita anak untuk pertama kalinya cukup menarik, ia merasa bahwa anaknya layak mendapatkan bacaan-bacaan yang bukan hanya menambah pengetahuan tapi juga mengembangkan daya imajinasi dan kepekaan linguistiknya. “Anak saya suka dibacakan cerita. Saya pun mulai mencari dan membaca cerita-cerita anak. Di titik itu pula saya sadar betapa terbatasnya pilihan cerita anak Indonesia. Kebanyakan adalah cerita-cerita terjemahan. Tapi ya benar, Mata Diraya menjadi inspirasi saya untuk membuat cerita,” dikutip dari wawancara Okky Madasari dengan Jurnal Ruang.

Benar juga, sepanjang saya pernah mengunjungi toko-toko buku kenamaan di Indonesia memang varian buku cerita anak dalam negeri belum cukup banyak. Hampir semua buku menyajikan dongeng nusantara klasik dan cerita-cerita bernuansa islami yang tujuannya lebih kepada media dakwah ketimbang menawarkan imajinasi. Entah karena penulis dalam negeri kekurangan ide atau ranah buku cerita anak yang belum digarap secara serius, tapi hal ini tentunya menjadi persoalan yang mendasar.

Masih dari liputan wawancara antara Okky Madasari dengan Jurnal Ruang, Okky rupanya masih menaruh harapan besar pada kebutuhan literasi anak dan buku-buku cerita anak di Indonesia. “Saya selalu percaya pada kekuatan sebuah cerita dalam membentuk kesadaran dan cara pikir pembaca. Dalam cerita anak, pembaca adalah anak-anak, rentang usia yang sangat penting dalam membentuk karakter manusia. Maka bagi saya sekarang, menulis cerita anak sama pentingnya dengan menulis cerita dewasa. Semoga semakin banyak penulis Indonesia yang menulis cerita anak dengan beragam tema, setting, dan gaya penulisan.” Nah, sebelum para penulis dan penerbit benar-benar mulai membikin buku-buku cerita anak secara serius, maka kita pun mesti menyiapkan lahan yang basah dengan semakin mendekatkan anak-anak pada buku.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.