Pendidikan Karakter Anak Berbasis Pancasila dalam Keluarga

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Oleh : Lucky Ikhtiar Ramadhan

Pancasila adalah sebuah kesepakatan berdirinya negara ini yang harus turun temurun dipelajari nilai luhurnya oleh anak bangsa. Dimulai dari keluarga, sekolah, kampus, dan wajib menjadi pegangan hidup setiap warga negara.” —Presiden Joko Widodo—

Pernyataan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo pada peringatan Hari Pancasila, 1 Juni 2017 lalu  ini mengingatkan kembali bahwa pentingnya mental dan pendidikan Pancasila yang harus dibangun dan diberdayakan mulai dari keluarga. Membangun persepsi rasa berbangsa dan bernegara melalui Pancasila ini sangalah penting ditumbuhkan kepada anak karena Pancasila adalah pandangan yang ideal dan sempurna bagi anak bangsa Indonesia. Apalagi, dewasa ini Indoensia sering dilanda konflik yang justru bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila seperti isu perbedaan agama, ras, konflik antar golongan dan lain-lain.

Untuk merealisasikan arahan Presiden Republik Indonesia tentang penguatan dan pengamalan nilai-nilai Pancasila hinga turun temurun ke seluruh elemen bangsa tersebut diatas, akan sangat efektif jika pembentukan Pendidikan karakter anak (dalam keluarga) menjadi salah satu concern jangka panjang generasi penerus bangsa Indonesia. Hal ini mengingat pentingnya mentalitas generasi penerus bangsa dididik dengan landasan ideal dari negara kita sendiri, Indonesia. Pendidikan Pancasila untuk anak bangsa ini harus dimulai dari lingkup masyarakat yang paling kecil yakni keluarga sebelum anak-anak masuk dalam lingkup sosial yang lebih kompleks di dalam sekolah maupun dalam masyarakat umum. Nilai-nilai filosofis Pancasila harusnya sudah dibangun pada masa-masa pertumbuhan anak (6-15 tahun) melalui Pendidikan dalam keluarga hingga ke lapisan msyarakat umum di sekolah,kampus, dan lingkungan sosial lainnya.

Dalam tulisan ini, penulis mencoba untuk memberikan sebuah gagasan dan pendapat mengenai peran penguatan keluarga dalam menumbuhkan jiwa Pancasila kepada anak. Gagasan ini didasarkan dari realitas yang terjadi pada dewasa ini terjadi dalam masyarakat Indonesia dimana generasi muda—yang berasal dari  generasi anak-anak—belum sepenuhnya mengamalkan Pancasila sebagai pandangan dan hanya menjadikannya sebagai simbol negara yang biasa. Disinilah peran keluarga sangat penting untuk memberikan pemahaman tentang Pancasila kepada anak-anak dalm keluarga dan bagaimana pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan Karakter Pancasila dalam Keluarga

Secara umum pendidikan karakter berbasis Pancasila merupakan upaya yang dirancang untuk dilaksanakan secara sistematis guna membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, dan kebangsaan. Pendidikan karakter Pancasila diwujudkan melalui pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat (Kemendiknas, 2010). Ki Hadjar Dewantara mengartikan pendidikan karakter sebagai upaya yang dirancang secara sistematis dan berkesinambungan untuk membentuk kepribadian peserta didik agar memiliki pengetahuan, perasaan, dan tindakan yang berlandaskan norma-norma luhur yang berlaku di masyarakat.

Dalam hal Pendidikan Pancasila dalam keluarga, orang tualah yang berperan penting dalam mengenalkan falsafah dasar negara ini kepada anak. Dalam keluarga, orangtua dapat bercerita kepada anaknya tentang makna filosofis Pancasila yang ditemukan oleh Bung Karno pada 1945. Filosofi Pancasila yang pada dasarnya mengangkat lima asas yakni; Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan dan Keadilan Sosial dapat diceritakan oleh orang tua kepada anaknya jauh sebelum anak-anak mengetahuinya di sekolah maupun dalam lingkup sosial masyarakat umum. Orang tua sangat berperan aktif sebagai katalisator akan nilai luhur Pancasila dan dapat memberi contoh dalam kehidupan sehari-hari di dalam keluarga dan masyarakat.

Sebagai contoh, misalnya seorang anak bertanya kepada orang tua bagaimana menyikapi perbedaan agama ataupun ras yang sangat beragam di Indonesia, dan orang tua dapat menjelaskan realitas tersebut dengan nilai-nilai Pancasila bahwa Indonesia adalah negara yang sangat menghormati perbedaan baik itu perbedaan ras,agama, suku maupun antar golongan. Selain  itu, orang tua juga dapat menjelaskan Pancasila dengan begitu sederhana melalui contoh-contoh yang terjadi di kehidupan sosial masyarakatnya. Misalnya, sebuah keluarga beragama Islam dapat menghormati dan menghargai agama lain di Indonesia seperti agama Kristen, Hindu maupun Budha dalam merayakan Hari-hari besarnya meskipun Islam adalah agama mayoritas yang dianut oleh 90% masyarakat Indonesia.

Dengan menularkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berkeluarga kepada anak, akan membuat anak menjadikan pandangan Pancasila sebagai ajaran ajaran, dogma atau falsafah yang harus diamalkan dalam kehidupan bermasyarakat. Berangkat dari contoh yang sederhana inilah Pancasila dapat disosialisasikan dan disebarkan kepada anak-anak bangsa saat ini. Pendidikan ini juga dapat dijadikan Pendidikan dasar untuk mengenal sejarah dan kebesaran bangsa dan negara  Indonesia. Melalui Pancasila ini, para orang tua juga dapat mengenalkan  semboyan Bhiennika Tunggal Ika, Undang-Undang Dasar 1945, hingga system dasar kenegaranan yang dianut di negara Indonesia. Bayangkan, jika setiap keluarga di Indonesia dapat melakukan Pendidikan semacam ini di setiap rumah , maka pengenalan dan pengamalan Pancasila akan dapat lebih dini dapat dilakukan sebelum anak mengetahui dalam Pendidikan formal di Sekolah Dasar (SD) maupun Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ini kana membuat anak lebih memiliki wacana yang luas tentang Pancasila karena telah diajarkan oleh orangtau di lingkungan keluarga atau rumah.

Implementasi Nilai Pancasila dalam Masyarakat

Sosialisasi dan pengamalan Pancasila kepada anak akan berpengarauh terhadap pandangannya dalma kehidupan sosial masyarakat. Anak yang terus menerus berkembang, mengembangkan diri dan mencari jatidiri akan diuji mental Pancasila ketika berinteraksi dengan masyarakat umum. Seorang anak yang tumbuh dewasa dengan didikan ayah dan ibunya di keluarga juga terus berinteraksi  dengan masyarakat sekitarnya baik itu di organisasi masyarakat, sekolah, lingkungan tempat ibadah dan lain sebagainya. Konflik-konflik sosial yang sering timbul akbiat perbedaan masyarakata Indonesia bisa dipikir lebih matang dengan adanya pemahaman tentang bagaiman pengamalana nilai-nilai Pancasila yang ada. Bagaimana kita bertuhan dan menghormati agama lain selain yang dianut, bagaimana kita hidup berdampingan, bersatu, berdemokrasi dan menciptkan keadilan sosial.

Ada perumpamaan sederhana  yang sering diucapkan tokoh bangsa ini mengenai bagaimana implemantasi Pancasila. Contohnya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo pernah mengatakan bahwa dalam menjalankan Pancasila adalah sangat mudah.”Sila pertama sampai keempat jalannya dan tujuan Sila kelima,” kata Panglima. Jika kita dapat mengkorelasikan dengan pendidikan berbasis Pancasila di keluarga maka harus kita ajarkan dan amalkan kepada anak adalah pengamalan-pengalaman dari mulai sila pertama hingga sila ke empat karena sila kelima akan menjadi output atau hasil kita mempelajari Pancasila itu sendiri.

Jadi, Pancasila bukanlah sebuah filsafat yang rumit melainkan dasar negara yang amat sederhana dan tinggal bagaimana kita dapat dan terus memahami dan mengamlkannya di dalam mulai  keluarga kita masing-masing. Jika keluarga fokus untuk membentuk anak-anak di keluarga denga ideologi Pancasila bukan tidak mungkin konflik dan krisis kebangsaan tidak akan terjadi lagi di Indonesia seperti peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahun ini. Konsep Pendidikan Berbasis Karakter Pancasila terhadap anak-anak di keluarga  lah yang akan dapat merelesaikan apa yang diucapkan Presiden Joko Widodo pada Hari Peringatan Kelahiran Pancaila, 1 Juni  2017 yang lalu.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.